PENERJEMAHAN FIKSI vs. NON-FIKSI

Catatan singkat ini saya tulis untuk menanggapi sebuah posting di Forum HPI di FB, yang semula menanyakan fee penerjemahan buku, yang kemudian berkembang menjadi opini bahwa menerjemahkan novel bisa sembarangan, sementara menerjemahkan buku teori ilmiah memerlukan keseriusan. Tulisan di bawah ini sedikit lebih panjang daripada posting asli saya di utas tersebut.

o 0 o

Selama sekitar 34 tahun menerjemahkan, saya sudah pernah menerjemahkan novel, buku non-fiksi, dokumen non-buku, film, dan sebagainya. Saya juga lama berkecimpung dalam dunia penerjemahan buku ajar dari berbagai bidang ilmu ketika menjadi Kepala Penyuntingan Penerbit ITB (1982-2001), jadi tahu persis suka duka penerjemah buku ajar tingkat universitas. Setiap jenis buku atau dokumen tentu memiliki keunikan tersendiri yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan tersendiri pula.

Baca lebih lanjut

SUKA DUKA BERBAHASA SERUMPUN

Tulisan ini pernah dimuat hampir 20 tahun yang lalu pada tahun 1996 di majalah Berita Buku yang diterbitkan Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia)

o0o

Mungkin cerita paling populer mengenai kesalahpahaman antara orang Indonesia dan Malaysia adalah makna di balik kata “pusing”. Bila Anda diajak “pusing-pusing” oleh orang Malaysia, jangan pusing dulu, karena ia hanya mengajak Anda “makan angin” alias jalan-jalan. Jadi, tak ada hubungannya dengan pusing yang berarti sakit kepala.

o0o

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika pertama kali menonton program TV Malaysia melalui saluran TV-3 dan RTM-1, saya sulit sekali memahami apa yang dikatakan oleh penyiar mereka. Apalagi sinetronnya, sama sekali tidak bisa dipahami. Sekarang, setelah hampir setiap tahun berkunjung ke Kuala Lumpur dan semakin sering kontak dengan bahasa tersebut, kendala itu berangsur-angsur berkurang. Namun, pahit-manisnya pengalaman yang bersangkutan dengan bahasa Malaysia mungkin ada gunanya diketahui pembaca Wisata Kata untuk memperkaya kosakata dalam bahasa serumpun ini.

Ibu Malaysia vs Ibu Indonesia
Pengalaman paling pahit yang saya alami adalah yang berkenaan dengan kata panggilan “Ibu”. Ketika baru lulus sebagai sarjana farmasi dari ITB, saya langsung ditawari bekerja sebagai dosen junior di lab farmakologi. Saya masih ingat, dosen senior yang mengepalai lab itu memperkenalkan saya kepada para mahasiswa sebagai “Ibu Sofia”. Padahal, banyak di antara mahasiswa peserta praktikum itu yang lebih tua daripada saya. Tentu saja sang dosen senior itu menghendaki agar peserta praktikum menghormati saya sebagai asistennya, walaupun waktu itu usia saya belum ada seperempat abad dan saya masih berstatus nona, alias belum menikah.
Nah, dalam sebuah seminar di Kuala Lumpur, saya mengajukan pertanyaan kepada seorang pembicara wanita yang saya perkirakan berusia sekitar 40 tahunan. Untuk menghormatinya, saya menyapanya dengan panggilan “Ibu”. Pembicara itu ternyata sangat marah karena menganggap saya telah menghinanya. Dia bersungut-sungut dengan mengatakan bahwa jangankan punya anak, menikah pun dia belum pernah! Mula-mula saya tidak mengerti mengapa dia marah-marah. Setelah acara tanya-jawab berakhir, seorang teman wanita berkebangsaan Malaysia yang pernah lama tinggal di Indonesia menjelaskan kepada saya bahwa, berbeda dengan di Indonesia, panggilan “Ibu” di Malaysia hanya ditujukan kepada wanita yang sudah punya anak atau wanita yang dianggap sudah tua. Sejak itu, saya selalu berhati-hati menyapa orang di Malaysia, apalagi kaum wanitanya. Yang paling aman adalah menyapa wanita dengan Cik yang berarti nona, kecuali bila kita yakin benar bahwa wanita itu sudah menikah; dia bisa disapa dengan sebutan Puan.

Baca lebih lanjut

where vs. di mana

Sebagai penerjemah ataupun penyunting, pernahkah Anda kesulitan saat menghadapi kata “di mana”, padahal Anda tahu bahwa “di mana” bukan kata hubung dalam bahasa Indonesia, melainkan kata tanya? Kata hubung where, which, in which, dan sejenisnya dalam bahasa Inggris memang sering diterjemahkan – oleh penerjemah yang “tidak mau repot” – menjadi “di mana”, “dalam mana”, dan seterusnya.

Bagaimanakah Anda menyiasatinya? Baca lebih lanjut

Kata vs. istilah

Seri “Mengenang guruku yang luar biasa”

Suatu kali, saya sedang menyunting naskah terjemahan bidang matematika. Di dalamnya saya temukan kata “rambang” sebagai padanan kata Inggris “random”. Beberapa bulan sebelumnya, kata Inggris yang sama dipadankan menjadi “acak” dalam naskah terjemahan bidang geologi. Lalu, dalam naskah terjemahan bidang lain, padanan yang saya temukan adalah kata serapan “random”.

Baca lebih lanjut

Banyak vs. sering

Seri “Mengenang guruku yang luar biasa”
Suatu hari pada dasawarsa 1980-an, saya menulis kalimat dengan menggunakan kata “banyak” dalam tulisan yang hendak saya kirimkan ke redaksi buletin Berkala ITB. Karena sudah lama berlalu, saya sudah tidak ingat lagi bagaimana tepatnya kalimat itu. Yang saya ingat justru pertanyaan Pak Adjat saat almarhum membaca draf artikel itu: “Maksud Fifi, mau pakai kata banyak atau sering?” Dan seperti yang sudah sering saya alami, pertanyaan almarhum membuat saya tertegun dan… berpikir! Ah, tentu saja…

Baca lebih lanjut

Cambridge International Dictionary of English

“Buku Pelajaran Bahasa Inggris”
CIDE

Bagi para penyunting, khususnya yang pernah belajar di Inggris, nama Cambridge University Press (CUP) tidak dapat dipisahkan dari buku Copy Editing karangan Judith Butcher, penyunting senior di CUP. Buku ini sudah dianggap semacam kitab suci para penyunting. Boleh dikatakan semua penerbit di Inggris dan banyak penerbit di negara terkemuka lainnya menggunakan buku ini sebagai pedoman penyuntingan. Jadi, memang cukup mengherankan bahwa CUP, sebagai kiblat penyuntingan di Inggris selama lebih dari dua dasawarsa, baru menerbitkan kamus akhir-akhir ini saja. Yang banyak menerbitkan kamus justru Oxford University Press (OUP), saingan CUP.

CUP mulai merintis penerbitan kamus pada tahun 1995 dengan memperkenalkan Cambridge International Dictionary of English (CIDE). Dari berbagai kelas kamus, CIDE dapat dikelompokkan sebagai kamus untuk pelajar tingkat lanjut (advanced learners), sama seperti kamus OUP karangan Hornby atau kamus sejenis terbitan Longman. Bahwa kamus sejenis ini banyak penggunanya dapat dilihat dari kelarisannya. Dalam waktu setahun saja sedikitnya sudah dilakukan tiga kali cetak-ulang.

Baca lebih lanjut

Serba-serbi Bahtera

Tulisan berikut adalah wawancara tertulis pada awal 2012 antara Bahtera (diwakili olehku) dan salah seorang wartawan, yang karena tidak tercatat, harap dimaafkan kalau aku lupa dari media mana.

logo-bahtera
Bagaimana awal mula kemunculan Bahtera? Apakah ada ide khusus? Atau cuma berdasarkan iseng belaka?

Posting perdana Bahtera muncul di dunia maya pada 3 Juli 1997 sehingga tanggal itulah yang dijadikan tanggal kelahirannya. Pendirinya ada 3 orang: Sofia Mansoor (Indonesia), Wiwit Margawiati (Indonesia), dan Bashir Basalamah (Singapura).

Pada pertengahan 1990-an itu, mereka bertiga, yang berprofesi sebagai penerjemah yang mendapatkan pekerjaan dari klien di mancanegara lewat internet, menjadi anggota milis Lantra, sebuah milis para penerjemah berbagai bahasa. Namun, keanggotaan di milis tersebut kurang efektif karena sangat minimnya diskusi tentang kesulitan penerjemahan ke dan dari bahasa Indonesia.

Maka, tercetuslah gagasan untuk membentuk milis sejenis, tetapi khusus untuk para penerjemah berbahasa Indonesia. Karena Bashir yang paling “melek internet”, jadilah dia diikutsertakan dalam pembentukan milis ini, meskipun sebetulnya dia warga Singapura.

pendiri Bahtera

Motto yang dipilih adalah “asah, asih, asuh” yang dimaksudkan untuk membina lingkungan tempat para anggotanya mengasah keterampilan dengan sikap saling mengasihi, serta mengasuh para penerjemah pemula. Baca lebih lanjut

Daffodil Kuning Kemayu

Sofia Mansoor
(puisi asli karya Horace Smith (1779 – 1849)

Pagi kelabu, semua berselimut debu
Seakan musim salju, bukan musim semiku
Angin timur dingin berhembus menyapu
Dan segalanya tertunduk pilu

Langit kelabu, padang pun begitu
Bukit, hutan, pepohonan sama membisu –
Yang jauh, yang dekat – semua sama terpaku
Semua kelabu dalam semilir sendu

Bantal kursi kelabu, permadani berdebu
Nampan anyaman kelam membiru
Selendang perawan lusuh layu
Demikian pula baju hangat dan topiku

Jalan kecil tua, sepi sempit, dan kelabu
Di sana di gerbang nan sayu
Tepat di sebelah si kayu kuyu
Berjelaga dia duduk termangu!

Baca lebih lanjut

MY PAPER

Sofia Mansoor
(original poem: Di Atas Kertas, by Eva Nukman)

my paper told me
you have 24 hours a day
to be a good translator or a good editor of a book
to be a great mom, a loving wife
to edit when you are still fresh in the morning
to translate an interesting novel in the afternoon
when drowsiness starts to embrace you
to translate scientific matters which makes you frown
when the night starts to creep in

my paper told me
you have 7 days a week
to be a good translator or a good editor of a book
to be healthy in body and mind
to participate in a religious gathering
to do an aerobic exercise, to swim once or twice a week
and to get away from the PC once in every hour

my paper told me
you have 30 days a month
to be a good translator or a good editor of a book
to be a good member of your community, a model citizen
to get together with the other women in the neighborhood
to volunteer in a nonprofit organization
to exchange ideas with your children’s teachers

my paper told me
you have 12 months a year
to produce a number of translations, a bunch of editing
in addition to writing your very own book
you decide the pace, the income

B U T Baca lebih lanjut

INTERNATIONAL VISITOR PROGRAM

Catatan:
Tulisan lama yang dimuat di buletin Berkala ITB, 1994, dimuat ulang dengan sedikit perbaikan.

Hubungan baik antara USIS (US Information Services) dan ITB, khususnya antara Office of Publication dan Penerbit ITB, tampaknya merupakan salah satu pertimbangan USIS memilihku untuk diberangkatkan ke Amerika Serikat. International Visitor Program yang kuikuti adalah salah satu program Pemerintah AS untuk memperkenalkan negara tersebut kepada bangsa-bangsa lain di dunia. Setiap tahun puluhan orang dari berbagai negara diundang untuk berkunjung ke AS. Mereka dipilih oleh Kedutaan AS di negara masing-masing, berasal dari berbagai kalangan: tenaga akademis, praktisi hukum, seniman, pustakawan, penerbit, dan tokoh masyarakat lainnya. Selama masa kunjungan, para tamu dijadwalkan bertemu dengan warga AS yang berkecimpung dalam bidang pekerjaan sejenis, berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dengan mereka.

Di samping pertemuan bisnis, para tamu pemerintah AS ini juga berkesempatan mengenal negara adidaya tersebut dari segi lain, seperti bergaul dengan masyarakat setempat, menyaksikan pertandingan olahraga khas AS, menonton pertunjukan kebudayaan, dan mengunjungi tempat bersejarah dan objek wisata. Melalui program yang dirancang khusus ini diharapkan para tamu mengenal AS dari dekat, dan selanjutnya terbina hubungan antarpribadi yang akrab yang diharapkan berlanjut di kemudian hari dan membawa pengaruh positif bagi kedua belah pihak. Peserta International Visitor Program yang kemudian menjadi orang penting di dunia dan di negaranya masing-masing antara lain Margareth Thatcher, Indira Gandhi, Boutros-Boutros Ghali, dan FW de Klerk.

Indonesian visitors
Pada tahun 1994, dari Indonesia antara lain diundang dua orang dari bidang penerbitan – Priyo Utomo, yang saat itu menjabat sebagai staf penerbit Gramedia, dan aku sendiri, Kepala Bagian Penyuntingan di Penerbit ITB. Program kami berlangsung selama sebulan penuh, dari 15 Juni sampai 13 Juli 1994. Selama sebulan itu kami mengunjungi berbagai kota besar-kecil di enam negara bagian. Seorang wanita AS yang berpengetahuan luas dan amat ramah menemani kami selama perjalanan.

Priyo

Baca lebih lanjut