Tulisan ini memenangi hadiah ketiga Sayembara Mengarang
majalah Ayahbunda 1994 dengan tema
“Pengalaman paling mengesankan sebagai orang tua”.

* * *

Andaikanlah mesin waktu seperti yang diciptakan Dr. Emmet dalam film Back to the future memang ada. Andaikanlah pula aku bebas memilih waktu di masa lalu untuk kujalani kembali. Hari apakah yang kupilih? Pertanyaan seperti ini sering diajukan kedua mutiara kembarku, Femmy dan Fahmy, yang sekarang berusia 17 tahun.

“Terlalu banyak waktu yang ingin Mama jalani kembali”, begitu jawabku selalu. Dan memang demikianlah. Aku selalu bersyukur kepada-Nya yang telah memberikan kebahagiaan tak terhingga bagiku, mengasuh kedua buah hatiku.

“Ayolah Ma, pasti ada satu hari yang Mama ingin ulangi lagi”, desak Fahmy setengah memaksa.

“Yang pasti, Mama ingin mengulangi pagi hari Minggu, 25 April 1976, pukul 09.15. Saat itulah saat yang paling membahagiakan Mama, setelah kalian berdua lahir dengan selamat dan berhentinya rasa sakit yang Mama alami sepanjang malam. Kelahiran sepasang anak kembar yang sehat adalah impian Mama sejak remaja.”

“Hanya itu?” tanya Femmy, kurang puas. “Pasti ada kejadian lain yang ingin Mama ulangi dalam hidup Mama.”

Aku terdiam sejenak. Memang ada satu hari lagi yang tak akan pernah kulupakan. Aku tidak yakin ingin mengulangi hari itu seluruhnya, tetapi ada saat-saat pada hari itu yang akan terus terpatri kuat di lubuk hatiku.

* * *

Waktu itu, si kembarku berusia 5 tahun, harinya hari Sabtu sekitar pukul 19.30, tempatnya rumah mertuaku di utara kota Bandung. Waktu itu suamiku tengah pergi berbelanja sendiri, dan aku sedang asyik bercakap-cakap dengan anggota keluarga yang lain. Femmy dan Fahmy bermain bersama sepupu mereka, berlari berkejaran di dalam rumah.

Tiba-tiba, terdengar tangisan nyaring Femmy. Aku melompat dari dudukku, memburunya. Dan … tak akan pernah kulupakan pemandangan mengerikan itu: lengan bawahnya melengkung, pertanda ada tulang yang patah. Kupeluk tubuhnya yang kecil tanpa berani menyentuh lengannya itu. Seluruh keluarga panik. Kami semua berunding untuk segera membawa Femmy ke dokter.

“Ke dokter mana? Sekarang hari Sabtu, banyak dokter tidak praktek. Lagipula, ini harus langsung ditangani rumah sakit. Tidak mungkin dokter umum bisa membetulkannya”, kataku sok tahu. Padahal, aku ngeri membayangkan rumah sakit dengan suasananya yang selalu membuat bulu kudukku berdiri. Dengan agak ragu, salah seorang saudaraku mengajukan usul: “Kita bawa saja ke Bah Bohon, ahli urut di Gegerkalong.”

Segera aku menyetujuinya. Lalu, kami pun bergegas berangkat ke rumah Bah Bohon yang jaraknya sekitar 1 km saja dari rumah mertuaku.

Bah Bohon (alm) adalah seorang tukang urut terkenal yang sering merawat olahragawan yang cedera. Usianya memang sudah lanjut, namun sikapnya yang tidak ragu-ragu segera dapat menenangkan hatiku yang gelisah. Lengan Femmy yang melengkung itu dipegang-pegangnya. Kemudian, dengan mantap ia mengambil semangkuk air, membacakan mantera sebentar, lalu memercikkan sedikit air itu ke lengan Femmy. Selanjutnya, sambil satu tangannya memegang siku Femmy, dengan tangan yang lain diluruskannya lengan bengkok itu dengan satu kali hentakan tiba-tiba. Femmy meringis, tetapi keterkejutannya dan kekagetanku berlalu dalam sekejap.

“Parantos”, kata Bah Bohon dalam bahasa daerah, yang berarti sudah selesai. “Sekarang tinggal dibalut sambil disangga dengan papan”, katanya lagi. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, semuanya rampung. Dan, dengan penuh rasa syukur kami pun kembali ke rumah.

Rangkaian peristiwa itu terjadi begitu cepat — mulai dari saat aku mendengar teriakan Femmy, panik, bergegas ke rumah Bah Bohon, perawatan, dan perjalanan kembali ke rumah. Selama kejadian itu berlangsung, aku rupanya telah mencurahkan seluruh perhatianku pada Femmy seorang, melupakan Fahmy. Padahal, ia merasa sangat bersalah karena ialah yang mengejar-ngejar saudara kembarnya itu sampai akhirnya terjatuh dan celaka.

“Mama”, bisiknya takut-takut sambil menggamit lenganku ketika kami turun dari mobil.

“Ya, sayang?”

“Apakah tangan Emi akan menyambung kembali?” tanyanya dengan mata gelisah. Tampak kesedihan mendalam di bola matanya yang bening.

Ya, Tuhan, maafkan aku. Sementara aku tenggelam dalam kepanikanku sendiri, aku telah melupakan kepanikan lain di hati putraku. Kupeluk tubuhnya yang menggigil.

“Ya, sayang. Tentu saja tangan Femmy akan baik kembali. Hari Senin nanti kita bawa Femmy ke dokter tulang. Fahmy boleh ikut dan menanyakannya langsung ke dokter.”

Ia mengangguk senang. Aku pun merasa lega karena telah berhasil menenangkan hatinya.

“Mama, … “, katanya lagi, “Patahkan juga tangan Ami. Biarkan Ami merasakan apa yang dirasakan Emi tadi …. ”

Aku terpana mendengar permintaannya. Kuciumi kelopak matanya yang basah. Dan, jauh di dalam hatiku, aku berbisik: “Terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena telah Kautumbuhkan rasa persaudaraan yang erat di antara kedua anakku. Lindungilah mereka selalu, kedua permata hatiku”.

(Ayahbunda, No. 7, 1994)

Iklan