Catatan:
Tulisan lama yang dimuat di buletin Berkala ITB, 1994, dimuat ulang dengan sedikit perbaikan.

Hubungan baik antara USIS (US Information Services) dan ITB, khususnya antara Office of Publication dan Penerbit ITB, tampaknya merupakan salah satu pertimbangan USIS memilihku untuk diberangkatkan ke Amerika Serikat. International Visitor Program yang kuikuti adalah salah satu program Pemerintah AS untuk memperkenalkan negara tersebut kepada bangsa-bangsa lain di dunia. Setiap tahun puluhan orang dari berbagai negara diundang untuk berkunjung ke AS. Mereka dipilih oleh Kedutaan AS di negara masing-masing, berasal dari berbagai kalangan: tenaga akademis, praktisi hukum, seniman, pustakawan, penerbit, dan tokoh masyarakat lainnya. Selama masa kunjungan, para tamu dijadwalkan bertemu dengan warga AS yang berkecimpung dalam bidang pekerjaan sejenis, berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dengan mereka.

Di samping pertemuan bisnis, para tamu pemerintah AS ini juga berkesempatan mengenal negara adidaya tersebut dari segi lain, seperti bergaul dengan masyarakat setempat, menyaksikan pertandingan olahraga khas AS, menonton pertunjukan kebudayaan, dan mengunjungi tempat bersejarah dan objek wisata. Melalui program yang dirancang khusus ini diharapkan para tamu mengenal AS dari dekat, dan selanjutnya terbina hubungan antarpribadi yang akrab yang diharapkan berlanjut di kemudian hari dan membawa pengaruh positif bagi kedua belah pihak. Peserta International Visitor Program yang kemudian menjadi orang penting di dunia dan di negaranya masing-masing antara lain Margareth Thatcher, Indira Gandhi, Boutros-Boutros Ghali, dan FW de Klerk.

Indonesian visitors
Pada tahun 1994, dari Indonesia antara lain diundang dua orang dari bidang penerbitan – Priyo Utomo, yang saat itu menjabat sebagai staf penerbit Gramedia, dan aku sendiri, Kepala Bagian Penyuntingan di Penerbit ITB. Program kami berlangsung selama sebulan penuh, dari 15 Juni sampai 13 Juli 1994. Selama sebulan itu kami mengunjungi berbagai kota besar-kecil di enam negara bagian. Seorang wanita AS yang berpengetahuan luas dan amat ramah menemani kami selama perjalanan.

Priyo

Program bagi kami disusun oleh USIA (US Information Agency), dibantu oleh IIE (Institute of International Education) dan International Visitor Council di setiap negara bagian yang kami kunjungi. Tidak kurang dari 60 orang dari 20 penerbit besar-kecil yang kami temui, termasuk enam penerbit universitas, satu penerbit jurnal akademis, satu penerbit majalah pengulas buku (San Francisco Book Review), satu penerbit yang mengkhususkan diri menerbitkan buku panduan perangkat lunak komputer, dan satu `penerbit’ lukisan. Kami membicarakan berbagai aspek penerbitan, membuka kemungkinan penerjemahan, saling bertukar pengalaman dalam menghadapi masalah penerbitan, termasuk undang-undang hak cipta. Hal yang terakhir ini dibahas juga bersama Ikatan Penerbit Buku Amerika, Library of Congress, dan pejabat dari Department of State.

Kami juga menghadiri Kongres Ikatan Penerbit Universitas Amerika yang tengah berlangsung di Washington DC. Masalah hak cipta menghangat dengan semakin canggihnya peralatan eletronik dalam dunia perbukuan. Dewasa ini, penjualan buku di AS memang menurun drastis karena sebuah buku, misalnya, dapat dialihkan ke komputer untuk dibaca serentak oleh beberapa orang yang dapat menghubungi komputer tersebut. Library of Congress sedang menjajaki peraturan untuk mengatasi hal itu, misalnya membatasi jumlah pembaca sampai paling banyak lima orang sekaligus.

Di samping penerbit, sejumlah perpustakaan dan toko buku kami kunjungi. Yang dibicarakan antara lain cara mereka memilih dan memesan buku. Yang unik, perpustakaan University of North Carolina memesan buku antara lain berdasarkan seberapa sering sebuah buku hilang! Mereka juga mengemukakan peran mereka dalam membangkitkan minat baca masyarakat. Durham County Public Library di North Carolina, misalnya, menyelenggarakan berbagai kegiatan di perpustakaan selama masa liburan agar anak-anak tetap datang ke perpustakaan dan membaca buku. Semakin banyak buku yang dibaca si anak, semakin menarik hadiah yang disediakan.

Lain lagi kegiatan toko buku Prairie Lights di Iowa City. Pengunjung bebas membaca buku yang dipajang sebelum memutuskan untuk membelinya. Di ruang baca yang dindingnya dihiasi foto-pengarang yang berukuran besar-besar, tersedia kafetaria yang menyediakan kopi hangat. Tiga kali seminggu diadakan acara baca buku oleh pengarang, dihadiri oleh sedikitnya seratusan orang setiap kali. Dengan cara ini minat baca masyarakat tetap terpelihara, menyaingi minat terhadap media visual elektronik yang semakin menggoda.

an author

Beberapa acara kami yang lain yang masih berkaitan dengan penerbitan tidak kurang menariknya. Di Chicago kami berbincang dengan seorang penulis buku sejarah yang amat produktif. Ia menceritakan kerja samanya dengan penerbit dalam mengumpulkan informasi, termasuk mencari data terbaru serta memperoleh foto dan gambar yang dilindungi hak ciptanya. Di Washington DC dijajaki kemungkinan penerjemahan karya para pengarang AS dengan bantuan dana dari USIA. Saat ini Penerbit ITB tengah menangani penerjemahan buku berjudul Changing Course yang mengupas perubahan haluan yang ditempuh dunia industri agar lebih berwawasan lingkungan.

Translation Laboratory, sebuah lembaga di UI (University of Iowa, bukan Universitas Indonesia), menceritakan kegiatan mereka sebagai pemberi jasa penerjemahan bagi warga universitas dan masyarakat. Mereka juga giat menyusun dan menerbitkan kamus peristilahan yang menjadi acuan warga kampus dalam menerjemahkan. Di UI ini juga kami mengunjungi laboratorium unik yang membuat kertas secara manual yang harganya US$20-50 selembar, ukuran A2. Library of Congress dan Windhover Press, yaitu penerbit tempat magang mahasiswa UI, termasuk para pembeli kertas mahal ini. Windhover Press menggunakannya untuk menerbitkan puisi dan buku silsilah keluarga yang jumlah cetaknya hanya 200-500 eksemplar. Tentu saja harga jual buku langka ini pun amat mahal.

Agar tidak jenuh oleh pertemuan bisnis yang jumlahnya sekitar 4-5 pertemuan sehari, bagi kami disediakan acara home hospitality. Kami diundang makan ke rumah anggota International Visitor Council setempat dan dalam suasana santai berbincang tentang kehidupan sehari-hari. Dalam kesempatan seperti itulah kami memperkenalkan Indonesia. Tuan rumah menyediakan atlas dan kami menunjukkan letak Indonesia, lalu dengan bantuan kartu pos bergambar yang sengaja kubawa, kami bercerita tentang keunikan Bali, Tator, Nias, Komodo, Danau Kelimutu, bunga terbesar di dunia (Rafflesia arnoldi), dan sebagainya. Aku membawa juga beberapa foto kampus ITB dan mereka tertarik pada bentuk bangunan khas ITB yang bertanduk kerbau itu. Sayang sekali belum ada informasi tertulis yang cukup lengkap dalam bahasa Inggris tentang ITB dan sejarah singkatnya.

home hospitality

Waktu sebulan berlalu begitu cepat. Keseriusan diskusi dalam berbagai pertemuan, keramahan dan keterbukaan warga AS, hingar-bingar penggemar sepak bola di New York, Chicago, dan Stanford, berlalu sudah. Dua koper yang semula agak longgar kini mencapai kapasitas maksimumnya, diisi berbagai dokumen yang terkumpul selama kunjungan. Mudah-mudahan maksud kunjungan ini, yaitu meluaskan wawasanku dalam dunia penerbitan serta menjalin keakraban dengan warga AS dapat terwujud dan membawa manfaat di kemudian hari.

(Berkala ITB, 1994)

Iklan