Tulisan berikut adalah wawancara tertulis pada awal 2012 antara Bahtera (diwakili olehku) dan salah seorang wartawan, yang karena tidak tercatat, harap dimaafkan kalau aku lupa dari media mana.

logo-bahtera
Bagaimana awal mula kemunculan Bahtera? Apakah ada ide khusus? Atau cuma berdasarkan iseng belaka?

Posting perdana Bahtera muncul di dunia maya pada 3 Juli 1997 sehingga tanggal itulah yang dijadikan tanggal kelahirannya. Pendirinya ada 3 orang: Sofia Mansoor (Indonesia), Wiwit Margawiati (Indonesia), dan Bashir Basalamah (Singapura).

Pada pertengahan 1990-an itu, mereka bertiga, yang berprofesi sebagai penerjemah yang mendapatkan pekerjaan dari klien di mancanegara lewat internet, menjadi anggota milis Lantra, sebuah milis para penerjemah berbagai bahasa. Namun, keanggotaan di milis tersebut kurang efektif karena sangat minimnya diskusi tentang kesulitan penerjemahan ke dan dari bahasa Indonesia.

Maka, tercetuslah gagasan untuk membentuk milis sejenis, tetapi khusus untuk para penerjemah berbahasa Indonesia. Karena Bashir yang paling “melek internet”, jadilah dia diikutsertakan dalam pembentukan milis ini, meskipun sebetulnya dia warga Singapura.

pendiri Bahtera

Motto yang dipilih adalah “asah, asih, asuh” yang dimaksudkan untuk membina lingkungan tempat para anggotanya mengasah keterampilan dengan sikap saling mengasihi, serta mengasuh para penerjemah pemula.

Perkembangan dari tahun ke tahun bagaimana?

Pada awal kelahirannya pada 1997, jumlah anggota masih minim, dan semuanya teman para pendiri  yang juga berprofesi sebagai penerjemah atau pencinta bahasa Indonesia. Tercatat antara lain Alan Stevens dan Bob Johnson dari AS, Rossano Rozzi dari Italia, Yan Ilsen dari Belanda, Katsujiro Ueno dari Jepang, Tim Behrend dari Selandia baru, Uli Kozok dan Philip Rachmat dari Australia, serta Setyadi Setyapranata dan Akhmad Bukhari Saleh dari Indonesia.

Jumlah anggota mulai bertambah banyak ketika milis Bahtera diperkenalkan oleh Sofia pada acara konferensi ke-4 ATF (Asian Translators Forum) di Bogor yang diselenggarakan oleh HPI (Himpunan Penerjemah Indonesia). Selanjutnya, anggota juga terus bertambah ketika di The Jakarta Post muncul artikel tentang perayaan ulang tahun ke-10 Bahtera yang dirayakan di Jakarta pada 2007. Saat itu Bahtera membagikan CD berisi aneka kamus kepada anggota yang menghadiri acara perayaan ulang tahun. Selain itu, acara dimeriahkan pula dengan penjualan khusus oleh sejumlah penerbit seperti Gramedia dan Serambi.

Sekarang, menjelang usianya yang ke-16 tahun, anggota Bahtera sudah melebihi angka 3000 dan setiap hari selalu saja ada calon anggota baru yang mendaftar. Mereka mengetahui keberadaan Bahtera dari pencarian di internet dan dari blog sejumlah Bahterawan (sebutan untuk anggota milis ini) yang menautkan blog mereka ke milis Bahtera.

Mengenai kontribusi Bahtera kepada anggotanya bagaimana?

Mulai pertengahan 2007 sampai 2010, atas permintaan anggota yang jumlahnya semakin banyak, Bahtera menanggapinya dengan menyelenggarakan beberapa kali pelatihan, seminar, atau diskusi internal. Semua pelatih dan peserta pelatihan berasal dari kalangan Bahtera sendiri. Semuanya diselenggarakan secara swadaya, bukan kegiatan komersial. Pokoknya, kegiatan Bahtera adalah dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota.

Selain di Jakarta, pelatihan juga dilaksanakan di sejumlah kota lain seperti Bandung, Yogyakarta, Malang, dan Denpasar. Penyelenggaraannya dilaksanakan melalui kerja sama dengan universitas setempat sehingga pesertanya tidak hanya anggota milis Bahtera, tetapi juga mahasiswa dan masyarakat umum.

Foto bersama

Dalam berbagai kegiatan itu, masyarakat awam sering salah paham karena mengira Bahtera adalah organisasi yang mengayomi penerjemah Indonesia, padahal Bahtera sebenarnya hanyalah forum diskusi di dunia maya. Kebingungan ini berakhir pada awal 2011.

Sejak 2011, berbagai pelatihan yang semula diselenggarakan oleh Bahtera kemudian dilaksanakan oleh HPI yang sejak Oktober 2010 diketuai oleh Eddie Notowidigdo, penerjemah senior yang juga mantan moderator Bahtera. Sebagian besar acara pelatihan dan diskusi yang dilaksanakan HPI melibatkan anggotanya yang juga anggota Bahtera. Dengan HPI sebagai penyelenggara, bobot pelatihan dan diskusi semakin baik karena memang semestinyalah kegiatan pemberdayaan dan pembinaan penerjemah Indonesia dilakukan oleh organisasi profesi, bukan oleh forum tidak resmi semacam Bahtera.

Lalu, kontribusi bahtera terhadap dunia penerjemahan?

Dari sekian banyak anggota Bahtera, menyeruak sejumlah orang yang mewujudkan berbagai gagasan yang dimaksudkan untuk membantu para penerjemah, bukan saja penerjemah yang terhimpun dalam milis Bahtera, tetapi juga penerjemah pada umumnya. Salah satu gagasan yang sudah terwujud ini adalah gabungan antara kamus, tesaurus, dan glosarium – disingkat kateglo (kateglo.com) – yang sangat membantu para penerjemah dan masyarakat umum. Bahan kateglo berasal dari dokumen Pusat Bahasa (sekarang Badan Bahasa) dan kamus pribadi beberapa anggota Bahtera sendiri.

Atas prakarsanya meluncurkan kateglo ini, Ivan Lanin dianugerahi gelar “Bahterawan Jempolan” yang diserahkan pada perayaan HUT ke-12 Bahtera di Malang pada 2009. Selain aktif sebagai anggota tim moderator Bahtera sampai sekarang, Ivan juga dikenal sebagai wikipediawan dan pencinta bahasa Indonesia yang sering menjadi narasumber untuk berbagai masalah kebahasaan.

Selain kateglo yang fenomenal ini, Bahtera memiliki beberapa situs yang juga dapat dimanfaatkan anggotanya dan penerjemah atau masyarakat umum pemerhati bahasa Indonesia. Silakan simak beberapa tautan berikut ini:

http://bahtera.org/faq
http://blog.bahtera.org
http://blog.bahtera.org/2009/08/cara-merintis-karier-sebagai-penerjemah-lepas-buku/
http://bahtera.org/faq
http://karyabahtera.wordpress.com/
http://wiki.bahtera.org/Halaman_Utama
http://wiki.bahtera.org/Rujukan
http://kritik.bahtera.otg
http://groups.yahoo.com/group/Bahtera/polls

Mungkin bisa diceritakan awal mula kondisi para penerjemah sebelum dan sesudah Bahtera terbentuk.

Agak sulit menjawab pertanyaan ini karena kemajuan seseorang sebelum dan sesudah Bahtera terbentuk tentu sangat individual sifatnya. Namun, mungkin beberapa pengalaman mereka dapat dicuplik dari tiga buku yang sudah diterbitkan Bahtera, yakni:

Tersesat Membawa Nikmat (TMN)
http://blog.bahtera.org/2009/07/tersesat-membawa-nikmat/
Menatah Makna (MM)
http://blog.bahtera.org/2011/02/menatah-makna/
Pesona Penyingkap Makna (PPM)
http://blog.bahtera.org/2013/04/pesona-penyingkap-makna/

Cover Pesona Penyikap Makna-half

Ketiga buku ini masing-masing berisi 60-an tulisan para Bahterawan, mengisahkan suka duka mereka dalam meniti karier di dunia penerjemahan. Nah, dalam kedua buku pertama ada bagian All About Bahtera (di TMN) dan Aku dan Bahtera (di MM) yang berisi beberapa tulisan yang mengisahkan pengalaman penulisnya sebelum dan sesudah bergabung dengan Bahtera, serta manfaat apa saja yang mereka petik dari keanggotaan mereka di Bahtera.

Momen yang paling berkesan dari awal berdirinya Bahtera hingga sekarang tuh apa sih?

Sulit sekali memilih momen yang paling berkesan karena banyak sekali. Kebersamaan anggota dalam berbagai kegiatan, baik kegiatan serius seperti pelatihan dan diskusi maupun kegiatan santai seperti perayaan HUT dan berwisata bersama, selalu meninggalkan kesan mendalam.

Saat memperkenalkan Bahtera ke dunia yang lebih luas, seperti saat memperkenalkannya kepada anggota ATF, sungguh sangat menggembirakan ketika penerjemah dari beberapa negara mengatakan terkesan oleh milis Bahtera dan ingin membentuk milis yang sama untuk para penerjemah bahasa mereka.

Berita tentang Bahtera di sejumlah media massa juga sungguh membanggakan, seperti saat diliput The Jakarta Post, Koran Sindo, dan Bali Post.

Untuk anggotanya sendiri, itu kalau dilihat dari segi usia bagaimana? Apakah hanya didominasi oleh kalangan anak muda atau berumur? Apakah anggota Bahtera juga ada yang berasal dari luar negeri?

Anggota Bahtera sangat beragam, baik latar belakang bangsa, suku bangsa, profesi, bahasa, dan juga usia. Saya tidak tahu berapa usia anggota termuda, tapi diperkirakan sekitar 20 tahun karena cukup banyak yang masih duduk di bangku perguruan tinggi. Sebaliknya, ada beberapa anggota yang sudah berusia lebih dari 70 tahun.

Anggota Bahtera di tanah air tersebar dari Banda Aceh hingga Papua. Di mancanegara, anggotanya tersebar di semua benua, kecuali tenetu Antartika. Dengan demikian, diskusi bahasa yang pernah muncul di Bahtera bukan saja pasangan Indonesia-Inggris, melainkan juga bahasa Prancis, Belanda, Jerman, Jepang, Arab, Mandarin, Tetum serta beberapa bahasa daerah seperti Sunda dan Jawa.

Seberapa sering Bahtera melakukan kegiatan, mungkin ada kegiatan yang sudah terjadwal dalam satu tahun atau semisalnya.

Seperti yang sudah dikemukakan, saat ini kegiatan pelatihan dan seminar sudah dikelola oleh HPI, sebagaimana mestinya. Sekarang ini Bahtera hanya mengadakan acara perayaan ulang tahun dan halal bihalal yang juga diselenggarakan bersama HPI karena sebenarnya anggota HPI kebanyakan anggota milis Bahtera juga. Acara lain adalah penyambutan anggota Bahtera yang tinggal di mancanegara ketika mereka pulang kampung atau berkunjung ke Indonesia. Sejumlah anggota Bahtera berkumpul, biasanya untuk makan siang bersama.

Lenah+Yaling

Prospek ke depannya seperti apa untuk para penerjemah? Utamanya dilihat dari sisi Bahtera.

Bahtera sebenarnya “hanyalah” forum diskusi di dunia maya, BUKAN organisasi. Jadi, sebagaimana milis lain, kehidupan Bahtera disemarakkan oleh posting para anggotanya. Selama ini dan untuk ke depan, Bahtera diharapkan tetap memberikan manfaat bagi anggotanya berupa pelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan diskusi yang berlangsung setiap hari, mencakup beragam topik. Jika manfaat itu dirasakan oleh anggotanya, para pendiri Bahtera beranggapan misi mereka sudah tercapai.

Iklan