Seri “Mengenang guruku yang luar biasa”

Suatu kali, saya sedang menyunting naskah terjemahan bidang matematika. Di dalamnya saya temukan kata “rambang” sebagai padanan kata Inggris “random”. Beberapa bulan sebelumnya, kata Inggris yang sama dipadankan menjadi “acak” dalam naskah terjemahan bidang geologi. Lalu, dalam naskah terjemahan bidang lain, padanan yang saya temukan adalah kata serapan “random”.

Saya ceritakan temuan ini kepada Pak Adjat (alm) sambil berkomentar bahwa asyik juga mengetahui banyak sinonim untuk kata “random” ini. Almarhum sependapat bahwa di situlah keuntungannya menyunting naskah dari berbagai bidang yang diterjemahkan oleh penerjemah yang berlainan. Menurut beliau, pengetahuan dan luasnya kosakata seorang penerjemah tentu berpengaruh pada pilihan kata yang digunakannya. Selanjutnya, beliau mengingatkan agar saya berhati-hati dan taat asas menggunakan padanan itu. “Harus taat asas menggunakan istilah yang sama di seluruh naskah,” katanya.

“Tapi, bukankah penggunaan kata justru harus diragamkan, agar pembaca tidak bosan?” saya menyanggah dengan gaya sok tahu.

“Fifi, istilah dan kata itu beda,” ujarnya, dan penjelasan beliau selanjutnya menambah pengetahuan saya. Seperti biasanya.

Definisi
Sebelum melanjutkan, mari kita tinjau terlebih dahulu definisi “kata” dalam kateglo, yang berkaitan dengan konteks kisah ini:

3 Ling) morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas;

Dan, berikut adalah definisi “istilah” dari sumber yang sama:

1 kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu;

Dari penjelasan dan definisi di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa istilah adalah kata, tetapi kata belum tentu istilah. Empat kata terakhir dalam penjelasan itu – khas dalam bidang tertentu – menjadi kunci pembedaan tersebut. Agar lebih jelas, mari kita ulas lebih lanjut dengan menggunakan contoh.

Contoh istilah dan penggunaannya
Dalam bidang fisika, kata Inggris “wave” sudah lama dipadankan dengan “gelombang”. Definisinya di kateglo, yang berkaitan dengan konteks pembahasan kita, adalah:
2 (ki) aliran getaran suara yang bergerak dalam eter (radio);

Dalam Endarmoko, Tesaurus Bahasa Indonesia, terdapat beberapa sinonim untuk kata “gelombang” – alun, bena, ombak, riak, aliran, arus. Namun, bayangkan jika kita mengganti kata “gelombang” dengan “ombak” atau “riak” saat sedang menulis naskah ilmiah dalam bidang fisika. Pembaca tentu akan terperangah dan kebingungan karena kedua sinonim itu tidak lazim digunakan sebagai istilah padanan “wave” dalam bidang fisika.

Contoh kata dan penggunaannya
Sebaliknya, saat sedang menulis naskah fiksi seperti novel atau laporan pandangan mata tentang keindahan laut atau danau, akan sangat membosankan jika berulang kali kita hanya menggunakan kata “gelombang” untuk menggambarkan gerakan air. Nah, dalam naskah seperti ini, kita justru dianjurkan untuk meragamkan kata “gelombang” dengan menggunakan berbagai sinonimnya. Peragaman ini bukan saja membuat tulisan kita lebih menarik, melainkan juga menunjukkan luasnya kosakata kita sebagai pengarang.

* * *

Sampai sekarang, saya masih ingat beberapa contoh kata yang digunakan Pak Adjat saat menjelaskan perbedaan antara “kata” dan “istilah” ini. Beliau memberikan contoh penggunaan kata “bunga” dalam dunia perbankan, yang akan sangat ganjil jika diganti dengan kata “kembang” atau “puspa”. Sebaliknya, kedua sinonim ini amat sangat elok jika digunakan saat kita bercerita tentang keindahan aneka flora Indonesia, misalnya.

Semoga tulisan singkat ini membuat Anda lebih cermat dan taat asas ketika menggunakan kata yang tergolong istilah dalam bidang tertentu. Selain itu, saya harap Anda juga rajin membuka tesaurus ketika menulis naskah yang mengharuskan Anda meragamkan kata.

Selamat menulis!

Iklan