Tulisan ini pernah dimuat hampir 20 tahun yang lalu pada tahun 1996 di majalah Berita Buku yang diterbitkan Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia)

o0o

Mungkin cerita paling populer mengenai kesalahpahaman antara orang Indonesia dan Malaysia adalah makna di balik kata “pusing”. Bila Anda diajak “pusing-pusing” oleh orang Malaysia, jangan pusing dulu, karena ia hanya mengajak Anda “makan angin” alias jalan-jalan. Jadi, tak ada hubungannya dengan pusing yang berarti sakit kepala.

o0o

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika pertama kali menonton program TV Malaysia melalui saluran TV-3 dan RTM-1, saya sulit sekali memahami apa yang dikatakan oleh penyiar mereka. Apalagi sinetronnya, sama sekali tidak bisa dipahami. Sekarang, setelah hampir setiap tahun berkunjung ke Kuala Lumpur dan semakin sering kontak dengan bahasa tersebut, kendala itu berangsur-angsur berkurang. Namun, pahit-manisnya pengalaman yang bersangkutan dengan bahasa Malaysia mungkin ada gunanya diketahui pembaca Wisata Kata untuk memperkaya kosakata dalam bahasa serumpun ini.

Ibu Malaysia vs Ibu Indonesia
Pengalaman paling pahit yang saya alami adalah yang berkenaan dengan kata panggilan “Ibu”. Ketika baru lulus sebagai sarjana farmasi dari ITB, saya langsung ditawari bekerja sebagai dosen junior di lab farmakologi. Saya masih ingat, dosen senior yang mengepalai lab itu memperkenalkan saya kepada para mahasiswa sebagai “Ibu Sofia”. Padahal, banyak di antara mahasiswa peserta praktikum itu yang lebih tua daripada saya. Tentu saja sang dosen senior itu menghendaki agar peserta praktikum menghormati saya sebagai asistennya, walaupun waktu itu usia saya belum ada seperempat abad dan saya masih berstatus nona, alias belum menikah.
Nah, dalam sebuah seminar di Kuala Lumpur, saya mengajukan pertanyaan kepada seorang pembicara wanita yang saya perkirakan berusia sekitar 40 tahunan. Untuk menghormatinya, saya menyapanya dengan panggilan “Ibu”. Pembicara itu ternyata sangat marah karena menganggap saya telah menghinanya. Dia bersungut-sungut dengan mengatakan bahwa jangankan punya anak, menikah pun dia belum pernah! Mula-mula saya tidak mengerti mengapa dia marah-marah. Setelah acara tanya-jawab berakhir, seorang teman wanita berkebangsaan Malaysia yang pernah lama tinggal di Indonesia menjelaskan kepada saya bahwa, berbeda dengan di Indonesia, panggilan “Ibu” di Malaysia hanya ditujukan kepada wanita yang sudah punya anak atau wanita yang dianggap sudah tua. Sejak itu, saya selalu berhati-hati menyapa orang di Malaysia, apalagi kaum wanitanya. Yang paling aman adalah menyapa wanita dengan Cik yang berarti nona, kecuali bila kita yakin benar bahwa wanita itu sudah menikah; dia bisa disapa dengan sebutan Puan.

Ibu Pejabat Polis
Sekarang, bisakah Anda menebak apa yang dimaksud dengan Ibu Pejabat Polis? Bukan, bukan istri Kapolri atau istri Kapolda. Polis tentu saja artinya polisi, bukan polis asuransi. Tetapi, pejabat versi Malaysia tidak sama dengan pejabat versi kita, karena di Malaysia, kata pejabat artinya sama dengan kantor di Indonesia! Nah, pejabat polis tentu berarti kantor polisi. Tetapi, apa hubungan antara kantor polisi dengan ibu? Ternyata ibu di sini berarti pusat dalam bahasa kita, seperti ibukota. Maka, Ibu Pejabat Polis tidak lain adalah Kantor Pusat Kepolisian!

Menunggu Jemputan
Sama halnya dengan kata pusing, masih banyak kata Malaysia yang ejaan dan lafalnya sama dengan kata Indonesia, tetapi artinya jauh berbeda, dan kadang-kadang bisa menimbulkan “malapetaka”. Contoh lain yang juga sama populernya dengan salah tafsir tentang kata pusing adalah salah tafsir tentang kata jemput.
Bayangkanlah kejadian ini: serombongan tamu Indonesia berkerumun di lobi hotel, menunggu datangnya mobil jemputan tuan rumah yang mengundang mereka. Sementara itu, pihak tuan rumah Malaysia menunggu-nunggu kedatangan tamunya di tempat jamuan makan. Setelah dua jam berlalu, rombongan Indonesia akhirnya masuk kembali ke kamar masing-masing sambil menggerutu karena mobil jemputan tidak kunjung datang. Hal yang sama terjadi di pihak Malaysia karena mengira orang Indonesia tidak sopan karena telah mengabaikan undangan mereka. Kedua belah pihak sebenarnya tidak salah karena yang terjadi hanyalah salah tafsir belaka. Dalam bahasa Malaysia, menjemput berarti mengundang; jadi, si tamu yang dijemput, yang disebut tamu jemputan, diharapkan datang sendiri ke tempat pertemuan!

Gampang dan Haram, Kelamin dan Keluarga
Dalam Kongres Internasional Bahasa Melayu, Agustus 1995, seorang peserta Malaysia mengeluarkan unek-uneknya kepada pembicara dari Indonesia, Prof. Harimurti Kridalaksana. Ia mengatakan bahwa orang Indonesia sering bersikap tidak sopan, yaitu dengan seenaknya menyebut gampang kepada orang Malaysia. Karena tidak menguraikan lebih lanjut mengapa dia tersinggung mendengar kata itu, saya dan beberapa orang Indonesia lainnya terheran-heran. Setelah bertanya ke kiri dan ke kanan, ternyata kata gampang di Malaysia berarti banci, yang berkonotasi sangat buruk. Perasaan orang Malaysia mendengar kata gampang mungkin dapat disamakan dengan perasaan orang Indonesia mendengar istilah pendatang haram yang sekarang telah diganti menjadi pendatang gelap atau pendatang tak berizin. Sementara itu, kata banci bukannya tidak ada dalam bahasa Malaysia, tetapi mempunyai makna lain, yaitu makna sensus dalam bahasa kita.
Contoh kekeliruan lain yang bisa membuat orang Indonesia salah tingkah, bahkan berang, adalah bila ditanyai, “Anda membawa kelamin?” Bayangkan jika seorang wanita mendapat pertanyaan demikian dari rekan prianya, atau sebaliknya. Tetapi, Anda tidak perlu tersinggung karena rekan Malaysia Anda rupanya hanya ingin tahu apakah Anda datang bersama keluarga. Pertanyaan yang wajar bagi sesama orang Timur, bukan?

Air Batu dan Air Kosong
Di hari yang panas terik, tentu nikmat bila mereguk minuman dingin, sekurang-kurangnya air es. Tetapi, jangan terkejut jika untuk Anda dipesankan air batu, karena inilah memang sebutan Malaysia untuk air es. Memang, ada kalanya air batu disebut juga air ais. Bagaimana kalau Anda minta air bening biasa? Tahan dulu tawa Anda, karena untuk Anda akan dipesankan air kosong! Memang airnya kosong, artinya tidak dicampur sirup atau apa pun. Teh tawar pun mereka sebut teh kosong atau teh O; huruf O di sini berarti only.
Jangan pula heran jika seseorang yang menggigil kedinginan malah mengatakan, “Sejuknya udara pegunungan ini”. Sejuk dalam bahasa Malaysia adalah dingin dalam bahasa Indonesia, dan sebaliknya. Jadi, air batu yang disuguhkan kepada Anda itu adalah minuman sejuk, bukan minuman dingin!

Anda Tiba Semalam?
Biasanya, ketika bertemu pada hari pertama seminar atau pertemuan lainnya di Malaysia, kita akan ditanyai, “Bila tiba? Semalam?” Saya sudah mengerti bahwa bila berarti kapan, dan karena saya tiba kemarin pagi, saya pun menjawab, “Bukan semalam, tapi kemarin pagi”. Teman Malaysia saya tertegun, lalu bertanya lagi, “You mean yesterday?” Dan saya terpaksa menjawab, “Yes, I arrived yesterday morning”. Si Malaysia berkata lagi, “Jadi, Anda tiba semalam”. Rupanya, semalam yang dalam bahasa Indonesia berarti tadi malam, bagi orang Malaysia berarti kemarin, tidak menjadi soal apakah kemarin pagi, siang, atau malam. Cara mengatakan tadi malam adalah malam semalam! Apakah kemarin pagi menjadi pagi semalam, tidak sempat saya persoalkan.

Teka-Teki Kata
Masih ada sejumlah kata lain yang juga baru bisa dipahami jika kita sudah pernah kontak dengan kata itu. Di Indonesia beredar lelucon tentang istilah Malaysia “Rumah Sakit Korban Lelaki” untuk istilah Indonesia “Rumah Sakit Bersalin”. Ini sebetulnya ulah orang iseng saja. Orang Malaysia tidak mengenal kata rumah sakit; mereka menyebut tempat itu hospital. Mereka memang banyak menyerap kata Inggris dengan menuliskannya sesuai dengan lafalnya. Karena itulah ada kata teksi untuk taxi, ejen untuk agent, enjin untuk engine, fesyen untuk fashion, dan seterusnya.
Sekarang, dapatkah Anda menebak arti kata pemaipan dan penaipan? Ingat rumusnya, lafal kata Inggris. Masih belum bisa menebaknya? Kembalikan dahulu kata turunan ini ke kata asalnya, yaitu paip dan taip …. Mudah-mudahan Anda sudah berhasil menebaknya. Ya, pemaipan berasal dari kata paip atau pipe dalam bahasa Inggris, dan penaipan dari kata taip atau type. Jadi, pemaipan adalah pemipaan atau pipanisasi dalam bahasa Indonesia, dan penaipan tidak lain adalah pengetikan!
Masih ada dua kata Malaysia lain yang pernah memusingkan saya. Ketika saya ajukan teka-teki mengenai arti kata setia-usaha dan bomba kepada beberapa orang Indonesia, terkaan yang paling sering muncul adalah: pasti ada kaitannya dengan koperasi dan bom. Padahal, setia-usaha adalah padanan sekretaris, sedangkan bomba padanan pemadam kebakaran! Sementara itu, kereta bomba bukanlah kereta api, melainkan mobil pemadam kebakaran.

Penutup
Memang keterlaluan jika dua orang Melayu, seorang Malaysia dan seorang Indonesia, bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Tetapi, itulah salah satu jalan keluar terbaik jika terjadi kesalahpahaman antara dua orang yang berasal dari dua negara berjiran itu. Serupa tapi tak sama – ungkapan paling tepat untuk membandingkan kedua bahasa serumpun itu.

Berita Buku, Desember 1996

Iklan