Catatan singkat ini saya tulis untuk menanggapi sebuah posting di Forum HPI di FB, yang semula menanyakan fee penerjemahan buku, yang kemudian berkembang menjadi opini bahwa menerjemahkan novel bisa sembarangan, sementara menerjemahkan buku teori ilmiah memerlukan keseriusan. Tulisan di bawah ini sedikit lebih panjang daripada posting asli saya di utas tersebut.

o 0 o

Selama sekitar 34 tahun menerjemahkan, saya sudah pernah menerjemahkan novel, buku non-fiksi, dokumen non-buku, film, dan sebagainya. Saya juga lama berkecimpung dalam dunia penerjemahan buku ajar dari berbagai bidang ilmu ketika menjadi Kepala Penyuntingan Penerbit ITB (1982-2001), jadi tahu persis suka duka penerjemah buku ajar tingkat universitas. Setiap jenis buku atau dokumen tentu memiliki keunikan tersendiri yang membutuhkan pengetahuan dan keterampilan tersendiri pula.

Contohnya, ketika saya meminta mantan mahasiswa saya menerjemahkan teks tentang manajemen, terjemahannya tidak bisa saya pakai, terlalu banyak salah pemahaman. Namun, ketika saya minta dia menerjemahkan buku anak, terjemahannya membuat saya tercengang karena “ruh” buku aslinya tergali dengan amat sangat baik (colek Harrymatusadiyah Noneng). Saya juga pernah membaca sekilas obrolan Dina Begum saat menerjemahkan novel, dan terjemahannya juga membuat saya angkat topi. Telah lahir penerjemah buku generasi baru, dan mudah-mudahan tidak lagi terdengar ucapan pembaca, “lebih baik baca aslinya daripada terjemahannya”. Semoga…

Nah, dalam hal penerjemahan buku ajar, saya pernah menghadapi seorang penerjemah bidang biologi. Dia seorang doktor, dosen di IPB, dan hasil terjemahannya berupa 3 jilid buku tebal amat sangat baik, nyaris tidak ada kesalahan berarti. Setiap bab dalam buku ajar tersebut mengupas satu topik, ditulis oleh pakar di bidangnya. Nah, dalam buku itu ada beberapa tulisan sepanjang 1-2 halaman yang diberi judul “A Closer Look”. Isinya berupa tulisan singkat tentang penulis bab yang bersangkutan, menggunakan “general English”, mirip lah dengan bahasa yang sering digunakan dalam buku fiksi. Ternyata, terjemahan sang doktor untuk teks semacam ini harus disunting dengan sedikit lebih berat. Bukan karena salah terjemahannya, tetapi karena terjemahannya agak kaku, kurang luwes. Ini juga bukti bahwa tidak setiap orang cocok menerjemahkan genre tertentu.

Lalu, ketika pada 2009 saya mendengarkan para penerjemah buku fiksi, termasuk buku anak, memaparkan pengalaman mereka dalam seminar Bahtera Goes to Malang, saya terkagum-kagum menyimak tuturan Mbak Istiani Prajoko tentang penerjemahan nursery rhyme. Saya juga belajar banyak dari Rahmani Astuti, penerjemah buku kawakan yang setia pada hobinya ini.

Saya juga terperangah ketika pada 1996 di seminar/kongres FIT di Melbourne mendengarkan suka duka penerjemah buku masak yang di akhir paparannya menyimpulkan bahwa penerjemah buku masak yang jempolan adalah orang yang justru suka masak (colek Indra Blanquita Hurip, Maria E Sundah), bukan sekadar penerjemah biasa. Dan hal ini pernah saya rasakan ketika diminta menyunting terjemahan buku tentang diet, yang memang tidak mudah. Pengetahuan mengenai takaran, nama bumbu, proses memasak, dan segala pernak-perniknya hanya akan bisa didalami secara lebih baik oleh juru masak (yang penerjemah).

Jadi, sangat gegabah jika mengatakan bahwa menerjemahkan suatu genre bisa sembarangan atau lebih mudah daripada menerjemahkan genre lain.

Iklan