Stanford Professional Publishing Course

Ini tulisan lama yang dimuat di majalah Berita Buku pada 1996.

Stanford certificate

Stanford Professional Publishing Course atau SPPC adalah kursus tahunan yang sejak tahun 1978 diselenggarakan setiap bulan Juli oleh Ikatan Alumni Stanford University. Kursus yang dibanggakan sebagai ajang untuk memperoleh “master degree in publishing” ini diperuntukkan bagi para profesional penerbitan yang berpengalaman sedikitnya tiga tahun.

Peserta, alumni, dan direktori
SPPC tidak hanya diikuti oleh warga Amerika Serikat, tetapi menarik peserta dari seluruh penjuru dunia. Sampai di usianya yang ke-19 pada tahun 1996 ini, alumninya mencakup lebih dari 2000 orang. Dari jumlah ini, sekitar 20% adalah peserta luar AS, dan sekitar 15 orang di antaranya dari Indonesia, termasuk diriku.

Setiap tahun, para alumni dikirimi buku daftar nama dan alamat SPPCer (alumni SPPC), yang tentu saja makin lama makin tebal. Direktori ini sangat bermanfaat karena dapat digunakan untuk keperluan bisnis. Baru-baru ini aku disurati seorang SPPCer Rusia Angkatan 1989 yang menawarkan pekerjaan untuk cabang penerbitnya di AS. Aku juga pernah memanfaatkan Direktori untuk berbagi informasi dengan sesama SPPCer, misalnya ketika mulai menggunakan Internet dalam penerjemahan dan penyuntingan. Ketika mengunjungi Tokyo Book Fair 1995, aku dijamu dan bertukar informasi mengenai penerbitan di negara masing-masing dengan seorang SPPCer Jepang. Jadi, Direktori SPPC mengakrabkan silaturahim antara sesama SPPCer.

Perlengkapan pendukung Baca lebih lanjut

Iklan

A Story To Live By

by Ann Wells (Los Angeles Times)

My brother-in-law opened the bottom drawer of my sister’s bureau and
lifted out a tissue-wrapped package.  “This,” he said, “is not a slip.
This is lingerie.”  He discarded the tissue and handed me the slip.
It was exquisite; silk, handmade and trimmed with a cobweb of lace.
The price tag with an astronomical figure on it was still attached.
“Jan bought this the first time we went to New York, at least 8 or 9
years ago.  She never wore it.  She was saving it for a special
occasion.  Well, I guess this is the occasion.”  He took the slip from
me and put it on the bed with the other clothes we were taking to the
mortician.  His hands lingered on the soft material for a moment, then
he slammed the drawer shut and turned to me.  “Don’t ever save
anything for a special occasion.  Every day you’re alive is a special
occasion.”

Baca lebih lanjut

Life Lessons

“Learn from yesterday. Live for today. Look to tomorrow. Rest this afternoon.”
*    Snoopy

I’ve learned that you can’t hide a piece of  broccoli in a glass of milk.
*    Age 6

I’ve learned that I like my teacher because she cries when we sing “Silent Night”.
*    Age 7

I’ve learned that when I wave to people in the country, they stop what they are doing and  wave back.
*    Age 9

I’ve learned that just when I get my room the way I like it, Mom makes me clean it up.
*    Age 12

I’ve learned that if you want to cheer yourself up, you should try cheering someone else up.
*    Age 13

I’ve learned that although it’s hard to admit it, I’m secretly glad my parents are strict with me.
*    Age 15

I’ve learned that brushing my child’s hair is one of life’s great pleasures.
*    Age 25

I’ve learned that delivering healthy twins is the most amazing moment of my life.
*    Age 25

Baca lebih lanjut

“Mama, patahkan juga tanganku!”

Tulisan ini memenangi hadiah ketiga Sayembara Mengarang
majalah Ayahbunda 1994 dengan tema
“Pengalaman paling mengesankan sebagai orang tua”.

* * *

Andaikanlah mesin waktu seperti yang diciptakan Dr. Emmet dalam film Back to the future memang ada. Andaikanlah pula aku bebas memilih waktu di masa lalu untuk kujalani kembali. Hari apakah yang kupilih? Pertanyaan seperti ini sering diajukan kedua mutiara kembarku, Femmy dan Fahmy, yang sekarang berusia 17 tahun.

“Terlalu banyak waktu yang ingin Mama jalani kembali”, begitu jawabku selalu. Dan memang demikianlah. Aku selalu bersyukur kepada-Nya yang telah memberikan kebahagiaan tak terhingga bagiku, mengasuh kedua buah hatiku.

“Ayolah Ma, pasti ada satu hari yang Mama ingin ulangi lagi”, desak Fahmy setengah memaksa.

“Yang pasti, Mama ingin mengulangi pagi hari Minggu, 25 April 1976, pukul 09.15. Saat itulah saat yang paling membahagiakan Mama, setelah kalian berdua lahir dengan selamat dan berhentinya rasa sakit yang Mama alami sepanjang malam. Kelahiran sepasang anak kembar yang sehat adalah impian Mama sejak remaja.”

“Hanya itu?” tanya Femmy, kurang puas. “Pasti ada kejadian lain yang ingin Mama ulangi dalam hidup Mama.”

Aku terdiam sejenak. Memang ada satu hari lagi yang tak akan pernah kulupakan. Aku tidak yakin ingin mengulangi hari itu seluruhnya, tetapi ada saat-saat pada hari itu yang akan terus terpatri kuat di lubuk hatiku.

Baca lebih lanjut

Taat Asas!

“Bu, sesudah nama pengarang harus pakai titik atau koma?
Nama pengarang harus pakai huruf kapital semua?
Judul harus dimiringkan semua?”

Pertanyaan bak bunyi letupan jagung berondong di microwave itu membuatku terperangah. Yang bertanya adalah Dedah, petugas yang menangani tata letak naskah pertama yang sedang kugarap, kumpulan abstrak skripsi mahasiswa ITB yang akan diterbitkan Penerbit ITB. Saat itu, akhir 1982, aku baru saja pindah kerja dari Perpustakaan Pusat ITB dan sama sekali buta perihal tata kerja di penerbit.

Taat asas! Itulah konsep pertama yang kupelajari saat menekuni dunia penerbitan. Titik dan koma, yang sebelumnya kububuhkan semauku, rupanya berfungsi penting dalam naskah. Mentorku, Pak Adjat Sakri (alm), Kepala Penerbit ITB sejak pendiriannya pada 1972, sengaja memilihkan naskah kumpulan abstrak skripsi itu sebagai naskah perdanaku. Aku sama sekali tidak perlu menyunting teksnya karena memang akan dimuat apa adanya. Mutu naskah ini adalah tanggung jawab dosen pembimbing mahasiswa penulisnya.

Dengan tekun kugarap ulang naskah itu. Kuperhatikan lagi tanda baca, jenis huruf untuk setiap unsur naskah – nama penulis, judul abstrak, nama jurusan. Kuperhatikan juga jarak antarbaris, takuh (indentation) paragraf, dan posisi teks – semua harus seragam rata kiri, sementara ujung kanan naskah dibiarkan bergerigis. Penerbit ITB juga menganut gaya selingkung untuk tidak memenggal kata di akhir baris. Menurut Pak Adjat, yang juga dosen Jurusan Seni Rupa ITB, naskah dengan tepi kanan bergerigis tampak lebih segar, tidak kaku seperti naskah papak kiri-kanan.

Baca lebih lanjut